Mulai dari NOL lagi

September 2, 2008 at 9:58 am | In Kuliah, Perjalanan Hidup | 4 Comments

Blog kali ini bercerita ttg kerasnya kehidupan awalku di Boston, USA. Klo kamu punya pendapat atau jawaban atas quizku nanti, feel free to comment.

Pertama, jetlag atau lebih tepatnya homesick induced jetlag. Karena perbedaan waktu 11 atau 12 jam antara Boston dengan Indonesia/Singapura, yg dipadukan dengan homesick tingkat tinggi, menjadikan aku masih berpikir dengan waktu jam, menit dan detik Singapura/Indonesia.

Hal ini yg kemudian menimbulkan gejala jetlag seperti lemah, letih, waktu tidur tidak teratur, dan pusing.. sampai sekarang.

Ada yg punya solusinya?

Kedua, reaksi tubuh terhadap lingkungan (suhu, kelembaban, angin, intensitas sinar matahari) yg berbeda. Pindah dari negara tropis ke negara 4 musim membuat badan aku tidak enak. Suer! Nggak enak!

Di sini lagi akhir musim panas dan awal musim gugur. Suhu rata2 20 derajat Celcius. Suhu masih batas ok lah, masih setara suhu AC klo di Singapura. Tapi yg kasar tuh anginnya, kenceng banget dan dingin. Bayangin aja kamu berdiri di depan AC persis dan terkena hembusan anginnya.

Lalu entah bener pa ndak, aku ngerasa intensitas sinar matahari di sini, siang hari, kok tinggi bgt hingga mata aku ngerasa ga enak. Sekarang klo siang2 mending di dalam ruangan. Kayaknya ide bagus jg buat beli sunglasses buat dipake diluar siang2.

Ada yg punya solusi lain?

Ketiga, reputasi memasakku hampir aja hancur. Buat yg pernah merasakan nikmatnya masakanku, entah itu waktu ada acara masak bareng, sahur, buka, etc. pasti ga lupa dong ma oseng2 buatanku.

Ada universal indikator kadar ke-enak-an suatu masakan ketika dihidangkan: kalau enak pasti masakannya habis. Nah, dulu setiap kali aku masak pasti habis. Kesimpulannya kalian tahu sendiri lah.

Permasalahannya.. aku di apartment-ku di dekat MIT, masak buat buka puasa. Aku pake aja jurus andalanku, oseng2 bawang putih dan merah. Kemudian masukin sayuran yg keras semisal wortel. Oseng2 lagi. Lalu masukin sayuran yg lunak. Tambah bumbu dan air secukupnya.

Tunggu 3-5 menit. Erm… tunggu 7 menit.. erm…. tunggu 10menit… erm… lho kok sayurnya masih keras? bumbunya ga meresap?! Aduh2.. apa yg salah dengan resep andalanku ini???

Sedikit quiz kecil2an, berdasarkan hint2 di atas, coba tebak apa yg salah dengan masakanku?

Akhirnyalah aku ngerasa klo aku mulai dari nol lagi untuk adaptasi dengan kehidupan di sini, mirip ketika empat tahun yg lalu ketika pertama kali ke Singapura. Tapi, aku berharap aku bisa lebih cepat beradaptasi di sini. Doakan aku ya teman2. Insya Allah, I can do better this time. Thanks.

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. kompornya mati ya gung??

    hihihihi..

  2. sayurnya beda palingg

  3. Kompornya mati ya?

  4. Hahaha.. benar sekali apa kata nurussadad.. sayurnya di sini tebel2.. beda banget ma di Indo/Sg. Biasanya orang2 sini makan sayur mentah alias salad. Sayur mentah yg ga basah ditambah sausnya gitu. Yah jadi sekarang klo mo makan sayur, bikin salad aja.


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.